Persamaan Kakek Ranieri dan Colonel Sanders Pendiri KFC

3ClaudioRanieri

Beberapa minggu lalu kita dibuat amaze oleh leicester city yang berhasil menjuarai salah satu liga paling ketat di dunia. Bukan arsenal, tottenham, manchester united, city, liverpool, chelsea, yang memiliki pemain dan pelatih papan atas.

Terlalu banyak faktor-x yang saling mendukung sehingga leicester bisa memenangkan banyak pertandingan di musim ini. Hampir semua pemain yang musim lalu nyaris tidak terdengar namanya, sekarang namanya mencuat ibarat from zero to hero. Sebut saja kang kante, om mahrez, dan pakde vardy yang ibarat main PES, mungkin kondisinya selalu “merah ngaceng” di setiap pertandingan. Kalo ga percaya, coba kalian main PES pake leicester, dan dibikin “merah ngaceng” semua, dijamin udah kaya pake real madrid. hehehe

fa3d256d-23ba-48e8-a166-eae6bb690eb4fixx

Sebenarnya ada satu nama besar di leicester, yak betul, dialah sang pengracik strategi, Claudio Ranieri. Pengalaman menukangi tim-tim besar seperti Valencia, Atlético Madrid, Chelsea, Juventus, AS Roma, dan Inter Milan pernah ia jalani. Namun entah mengapa dengan pemain-pemain top di klub besar tersebut, Ranieri tidak pernah merasakan manisnya juara liga kasta teratas. Mentok-mentoknya di peringkat dua, seperti yang dialaminya di klub Chelsea, Juventus, AS Roma, dan Monaco. Julukan Mr. Runner-up pun melekat erat di jidatnya. Terakhir, ia pun dipecat timnas Yunani setelah melalui (hanya) 4 laga yang mengecewakan. Mungkin di masa-masa itu Ranieri terlalu memaksakan dirinya menjadi Hero.

Musim lalu, adalah musim pertamanya di Leicester. Tidak banyak hal yang bisa dia lakukan untuk mendongkrak klub ini menjauh dari zona degradasi. Setidaknya 18 pekan dilewatkan Leicester di peringkat paling buncit liga Inggris. Hingga akhirnya bisa mengakhiri liga di peringkat 14 dan lolos dari degradasi. Namun lain ceritanya di musim ini, Leicester sudah mulai memuncaki peringkatnya sejak pekan ke 13. Ajaib. Saya yakin tidak ada satupun pemerhati sepakbola yang memperkirakannya. Kecuali mungkin memang penggemar Leicester sejak dulu atau tinggal di kota tersebut. Tidak ada yang mengira pemain-pemain “zero” mereka mendadak jadi “hero”. Anda tahu penyebabnya? Ranieri sudah bosan menjadi hero. Sejak awal musim, ranieri hanya menargetkan lolos dari zona degradasi. Strategi? tidak ada yang spesial kecuali penggunaan formasi 4-4-2 yang dinilai sudah ketinggalan jaman karena saat ini sedang trend formasi 4-2-3-1 yang mendewakan penguasaan lapangan tengah dan ball possesion. Jadi saya pikir yang dilakukan Ranieri hanya melepas pemain-pemainya dan membiarkan mereka menikmati setiap detik permainannya di lapangan. Tugasnya cuma satu, membuat para pemainnya rileks, tanpa beban, dan terus berlari.

premier-league

Gelar The Tinkerman yang dulu juga melekat pada dirinya tampaknya sudah tidak berlaku. Dengan pilihan pemain yang relatif terbatas, ia tidak memiliki banyak pilihan. Mungkin Ranieri juga stress melihat sedikitnya pilihan pemain, hingga membuatnya memutuskan untuk “ga banyak mikir” alias the tinkerlessman. Namun justru itu membuat timnya solid dan kompak. Faktor usia juga mempengaruhi keputusannya itu. Saya mengamati ambisinya tidak sebesar dulu ketika masih mengarsiteki klub-klub besar.

Banyak pelajaran berharga yang bisa kita petik dari suksesnya Leicester, salah satunya dari Kakek Ranieri. Pertama, kita tidak perlu berusaha menjadi pahlawan. Itu membuat beban yang berlebihan kepada kita dan tim, sehingga kreativitas dan keberanian kita dalam bertindak juga akan berkurang. Kedua, ga usah banyak mikir dalam berstrategi, jadilah the tinkerlessman. The best strategy is action. Yang harus dipikirkan adalah bagaimana caranya agar tim kita bisa senang dalam bekerja dan terus bersemangat dalam melewati tantangan-tantangan yang menghadang.

Pelajaran terakhir adalah, Ranieri memulai hidupnya di umur 64. Ya, dia baru akan merasakan asik-asiknya menjadi pelatih adalah di musim depan. Di saat tim antah berantah untuk pertama kalinya dalam sejarah berlaga di liga Champion melawan klub-klub top eropa, banyak mata dan kamera akan menyorot sepak terjangnya. Tidak cuma Ranieri, Colonel Sanders penemu KFC juga baru berhasil mendirikan gerai pertamanya di usia 65 tahun. Itu menjadi titik awal dia dalam mengembangkan restonya di seluruh penjuru dunia. Mereka umur 60an masih semangat dan berjuang keras, kita?

1367d457-e835-4a16-a37e-e261a9df5f18Jadi, mari kita belajar dari Ranieri dan Colonel Sanders. Bersabarlah bagi yang sedang berusaha merintis kesuksesan di umur yang baru berkepala 2 atau 3 atau 4 atau dst, bisa jadi kesuksesan besar menantimu di tahun berikutnya. Selama kita terus berusaha dan menikmatinya. Selamat berjuang!

Enjoy! Jangan lupa bersyukur! 🙂